Made begitu nama panggilan dari mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Tadulako yang memiliki nama lengkap I Made Hermanto. Meskipun memiliki sejuta prestasi, tapi tetap rendah hati dan murah senyum kepada setiap orang yang ditemuinya.

Laki-laki yang lahir di Budi Mukti 9 Mei 1994 ini memulai kuliahnya pada tahun 2011. Saat ini sedang telah duduk di semester 8 dan disibukkan dengan tugas akhir. Meskipun demikian, berbagai kesibukan menjadi mahasiswa yang penuh prestasi masih ia jalani.

Kegigihan dan ketekunan yang menjadi prinsip hidupnya membuatnya memiliki banyak prestasi. Pada tahun 2013, terpilih sebagai salah satu dari 2 mahasiwa penerima beasiswa djarum (Beswan) yang merupakan beasiswa paling bergengsi di seluruh perguruan tinggi di Indonesia.

Meskipun berasal dari daerah pelosok, Made bisa menunjukkan eksistensinya sebagai mahasiswa yang memiliki prestasi tidak hanya di bidang akademik saja dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) yang diraihnya saat ini, sebesar 3,70.  Hal ini ditunjukannya sejak pertamakali masuk ke perguruan tinggi Universitas Tadulako dengan menyabet juara 1 pada pekan olahraga dan seni (PORSENI) mahasiswa baru (MABA) cabang olahraga Pencak Silat.

Seiring berjalannya waktu, pada tahun 2012 mahasiswa ini mencoba memasukkan proposal program kreativitas mahasiswa (PKM) dengan judul Pembangkit Listrik Pikohidro Sebagai Penunjang Pengembangan dan Objek Wisata Sains Air Terjun  Manti Kole dan dinyatakan lolos. Pada 2 tahun berikutnya pun demikian dengan mengangkat judul yang berbeda; Alat Pendeteksi Dini Banjir Menggunakan Telemetri di Daerah Lembah Palu.

Mahasiswa yang berasal dari Desa Bina Mukti ini tidak hanya menggeluti dunia PKM saja tetapi pernah mengikuti ajang seleksi olimpiade sains nasional perguruan tinggi (OSN-PT) yang diselenggarakan oleh Pertamina beberapakali. Kesemuanya itu diraihnya dengan adanya motivasi yang besar dari orang tua untuk terus belajar dan berusaha memberikan yang terbaik.

Aktivitas Made selain menjadi mahasiswa, sebagai Asisten Praktikum serta staf pendukung penelitian dosen. Meskipun demikian, ia masih sempat untuk menjadi tentor di salah satu rumah belajar di kota Palu.

Ada satu hal yang menjadi prinsip hidupnya. ‘’Jalani Hidup Ini dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat  dan percaya Tuhan selalu ada untuk kita’’ ungkapnya. Ly

LEAVE A REPLY